Entri Populer

Rabu, 30 Mei 2012


CeRPeN PaTaH HaTi

Empat tahun yang lalu, pahit untuk dikenang Laila. Berawal dari Laila yang les di rumah gurunya. Saat itu Laila, Ririn, Nur berangkat les. Tiba di les, mereka bertemu empat anak baru yaitu Tino, Rendi, Dino dan Rio. Ririn kaget melihat mereka.
“Lho, itu bukannya Rendi ya?” tanya Ririn.
“Rendi siapa?” tanya Laila balik.
“Rendi yang naksir kamu dulu itu ya Rin? Yang katamu dia satu les sama kamu dulu itu ta?” tanya Nur ke Ririn.
“Iya-iya aku ingat.” sahut Laila.
“Iya Nur, tapi aku udah gak ada rasa lagi sama dia kok.” Jelas Ririn.
“Halah udah jangan di bahas mending kita ke warung sebelah beli makanan.” Seru Nur.
“Iya-iya aku juga udah laper nih.” Sahut Laila.
Waktu demi waktu terus berjalan, Laila lama kelamaan naksir sama Rendi. Namun perasaannya belum diketahui kedua sahabatnya itu. Saat berada di les, Laila terus memandangi Rendi. Tanpa ia sadari kedua sahabatnya mengagetkannya dari belakang.
“Hayo dor!” kaget Nur dan Ririn.
“Eh kalian, ngagetin gue aja. Ada apa sih?” tanya Laila.
“Kelihatannya kamu sejak tadi mandangin Rendi terus deh La?” tanya Ririn.
“Iya tuh, jangan-jangan kamu naksir sama Rendi ya?” sahut Nur.
“Eh eh enak saja, siapa yang naksir dia. Ogak ah, hiii.” Sambil meninggalkan Ririn dan Nur.”
“La Laila mau kemana? Tungguin kita dong?” seru Ririn”
Semenjak kejadian itu Laila menceritakan perasaannya kepada kedua sahabatnya kalau dia naksir sama Rendi. Ke esokan harinya mereka berangkat les bersama, akhirnya mereka tiba. Memasuki tempat les mereka bercanda-canda. Tepat di depan pintu Laila nabrak si Rendi.
Bruukkk...
“Opps, kamu itu gimana sih Ren. Liat tuh si Laila terjatuh.” Seru Nur.
“Udah aku gak apa kok.” Jelas Laila.
“Tolongin Laila bangun dong Ren.” Sahut Ririn.
Rendi membantu Laila bangun tanpa disadari mereka saling bertatapan.
“Heh kalian ini berdua malah pandang-pandangan. Cepetan Ren bantu Laila bangun.” Kata Ririn.
“I..iyaa maaf maaf. Kamu gak apa kan La? Maafin aku ya? Tadi aku gak sengaja?” Kata Rendi sambil terbata-bata.
“Iya Ren gak apa kok, tadi aku yang salah ga..aa.kk..,” Jelas Laila langsung dipotong sama Nur.
“Udah-udah gak usah berbelit-belit gini. Ayo La kita duduk.” Sahut Nur.
“Ta..ta..pi Nur?” Kata Laila.
“Udahlah La, mending kita ke warung samping aja beli makanan daripada kita urusin nih anak.” Kata Ririn sambil mengajak Laila pergi.
Setelah itu Rendi hanya duduk menyendiri termengu. Tak lama kemudian Tino, Dino, dan Rio menghampirinya.
“Ren ngapain kamu nglamun disini?” Tanya Dino.
“Eng.. ga..gakk kok, kalian bertiga ngagetin aku aja. Dari tadi cari-cari kalian gak ada, kemana aja?” Kata Rendi sambil terbata-bata.
“Ini tadi kita abis ambil jambu. Itu si Dino yang manjat.” Jelas Rio.
“Capek tapi abis manjat, nih badan gatal semua.” Gerutu Dino.
“Salah sendiri, siapa suruh kamu kalah suit.” Jelas Rio.
“Udahlah jangan bertengkar terus. Ini lho kita bawain jambu buat kamu Ren.” Sahut Tino.
“Makasi ya.” Kata Rendi tapi tak menatap teman-temannya melainkan memandangi Laila terus-menerus.
“Cantik juga ya Laila?” Bisik Rio di telinga Rendi.
“Iya betul juga katamu, Laila memang cantik.” Jawab Rendi.
“Hayo..oo, kamu naksir ya sama Laila?” Seru Tino, Dino, Rio serentak.
“Eh ehh siapa yang naksir. Aku bilang dia cantik bukan berarti aku naksir kan?” Sahut Rendi sambil mengejar teman-temannya.
Hari itu telah berlalu. Berhari-hari yang dilalui, Laila dan Rendi semakin hari semakin akrab. Hingga mereka bertukar nomor handphone. Laila juga sering menelepon Rendi. Hingga suatu saat teman-temannya tahu kedekatan mereka.
Tepat hari itu waktu les, Laila dan dua sahabatnya berangkat bersama. Tiba di les ternyata sudah masuk. Langsung mereka bertiga masuk. Laila yang tiba-tiba berhenti di depan pintu melihat Rendi tak berada di kelas. Sedangkan Nur dan Ririn tak bisa masuk karena jalannya dihadang oleh Laila. Semua anak yang berada di kelas langsung menoleh ke arah Laila dengan penuh heran.
“La kamu ini ngapain sih berhenti di depan pintu? Kita kan gak bisa masuk.” Jelas Nur.
“Iya nih La, kamu gak malu apa dilihatin anak-anak se kelas lho.” Sahut Ririn.
“Hehehe maaf teman-teman, itu tadi a..a..a..ku..u,” Laila belum selesai bicara, Ririn langsung saja memotong.
“Udahlah La, cepetan masuk gak usah pakai pidato segala di depan teman-teman.” Potong Ririn.
Akhirnya mereka bertiga langsung duduk di tempat mereka. Lalu Dino memanggil Laila.
“La, Laila?” Panggil Dino.
Si Laila yang sedang sibuk mengeluarkan bukunya. Akhirnya Nur yang menanggapi panggilan Dino.
“Ada apa No?” Jawab Nur.
“Aku memanggil Laila bukan kamu Nur. Cepet panggilin Laila!” Jelas Dino.
“Iya-iya. La itu lho kamu dipanggil sama Dino.” Kata Nur sambil ngambek.
“Iya, ada apa No?” Tanya Laila.
“Kamu pasti tadi bengong gara-gara nyariin Rendi kan?” Tanya Dino sambil tersenyum.
“Cii..ee...?” Sahut Nur dan Ririn sehingga membuat anak-anak yang lain menoleh ke arah Nur dan Ririn.
“Opps maaf maaf, hehehe.” Kata Nur dan Ririn serentak.
“Kalian kenapa sih heboh gitu? Enggak kok No.” Jawab Laila.
“Halah kamu gak usah malu-malu La. Aku tahu kedekatan kamu dan Rendi kok.” Jelas Dino.
“Emangnya Rendi kenapa kok gak masuk les?” tanya Laila sampai pipinya memerah.
“Ihh pipimu mereh lho La. Hayo?” sahut Ririn.
“Enggak kok enggak, aku Cuma ingin tahu saja.” Jelas Laila sambil menunduk malu.
“Itu tadi Rendi gak masuk sekolah La. Katanya sih dia sakit tapi aku gak tahu sakit apa.” Jawab Dino.
“Iya La Rendi sakit. Apa kau tak menjenguknya?” Sahut Rio tiba-tiba.

Setelah Dino menceritakan keadaan Rendi, Laila tak fokus dengan pelajaran yang ia terima waktu les. Malam harinya Laila menelepon Rendi, tiga kali Laila menelepon tapi tak ada jawaban. Namun akhirnya telepon ke empat ada jawaban dari Rendi.
“Halo?” jawab Rendi.
“Halo Rendi? Ini aku Laila. Katanya kamu sakit ya?” Tanya Laila.
“Oh kamu La, iya aku sakit sekarang. Tadi pagi aku gak masuk sekolah.” Jelas Rendi.
“Kamu sakit apa Ren? Tadi kamu juga gak masuk les gitu.” Tanya Laila.
“Kata dokter aku sakit tipes La. Ada apa kamu meneleponku?” Tanya Rendi balik.
“Itu aku Cuma pengen tahu keadaanmu Ren. Kita kan teman?” Jawab Laila sambil terbata-bata
“Makasi ya La, kau sudah perhatian sama aku.” Kata Rendi sambil tersenyum.
“Iya Ren sama-sama. Aku belajar dulu ya Ren. Semoga kamu cepet sembuh.” Jelas Laila sambil menghibur.
“Iya La makasi. Udah kamu belajar aja dulu. Nanti aku malah ganggu.” Kata Rendi.
“Oke Ren. Cepet sembuh ya, bye?” Jelas Laila.
“Bye.” Jawab Rendi sambil menutup telepon.
Sejak kejadian itu Rendi semakin dekat dengan Laila. Mereka saling melengkapi satu dengan yang lain. Tak terasa ulang tahun Laila tiba. Laila sudah yakin kalau Rendi bakalan memberi sesuatu kepada Laila. Namun perasaan Laila salah, saat les Rendi tidak melakukan apa-apa. Bahkan saat pulang les pun Rendi tak memberi Laila kejutan. Laila pun kesal hingga ingin menangis di depan kedua sahabatnya itu.
“Apa Rendi tak tahu ulang tahunku? Apa dia lupa denganku?” Jelas Laila sambil menunduk sedih.
“Udahlah La, mungkin saja Rendi tadi ingin beri kamu kejutan tapi gak sekarang.” Hibur Ririn sambil memeluk Laila.
“Iya La kamu jangan sedih. Kita lihat aja nanti. Percaya deh sama aku.” Jelas Nur sambil menghibur Laila juga.
“Makasi ya teman-teman. Kalian selalu ada dimana aku sedih.” Kata Laila tersenyum sambil memeluk kedua sahabatnya.

Akhirnya mereka pulang bersama menuju rumah masing-masing. Malam itu Laila tidak bisa konsen belajar. Dia terus menerus memegang handphone-nya. Akhirnya Rendi menelepon tepat pukul 9 malam. Langsung Laila mengangkat telepon dari Rendi.
“Halo, Rendi?” jawab Laila.
“Laila, happy birthday ya? Maaf La tadi aku tak bisa memberimu apa-apa?” Tanya Rendi.
“Makasi ya Ren. Gak apa kok Ren, kamu inget hari ulang tahunku aja itu udah kado yang berharga buat aku kok.” Jawab Laila sambil tersenyum.
“Masak sih? Kamu lagi apa La? Kok belum tidur?” Tanya Rendi.
“Tadi aku masih beres-beres buku Ren buat besok. Kamu sendiri kok belum tidur?” Tanya Laila balik.
“Ini tadi aku habis belajar La, terus telepon kamu dulu baru mau tidur juga.” Jawab Rendi.
“Makasi ucapannya ya Ren. Kamu tidur aja dulu. Kelihatannya kamu kelelahan, dari suaramu sudah kelihatan.” Jelas Laila.
“Iya La, aku tidur dulu ya? Kamu juga tidur juga lho!” Seru Rendi.
“Iya Ren.” Jawab Laila.
“Oke, bye?” Kata Rendi.
“Bye.” Jawab Laila.
Setelah menerima telepon dari Rendi, Laila merasa senang hingga tak bisa tidur karena terus memikirkan Rendi. Hingga Laila yakin kalau Rendi juga menaruh hati kepadanya. Tapi sayangnya Rendi hingga sekarang belum menyatakan cinta kepadanya.
Ke esokan harinya Laila menceritakan kepada kedua sahabatnya kejadian malam kemarin saat Rendi mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Kejadian itu membuat kedua sahabatnya juga yakin kalau Rendi juga mencintai Laila. Laila pun semakin yakin akan firasatnya itu. Tapi Laila malu menyatakan perasaannya kepada Rendi.
Selang hari ulang tahun antara Laila dan Rendi hanya seminggu sesudah hari ulang tahun Laila. Satu hari sebelum ulang tahun Rendi, Laila membeli kado untuk Rendi. Ke esokan harinya tepat waktu les tiba. Laila sudah merencanakan kejutan untuk Rendi. Pulang dari les, Laila menghadang jalan pulang Rendi. Saat itu ada Tino, Dino, Rio, Nur, dan Ririn membantu Laila dengan membawa tepung dan air. Saat Rendi datang langsung mereka melempar air dan tepung ke arah Rendi. Sedangkan Rendi tak bisa berbuat apa-apa.
“Hey kalian semua stop stop stop!” Teriak Rendi.
Tapi mereka tak menghiraukan perkataan Rendi. Tapi akhirnya mereka berhenti juga dan Laila memberi kado kepada Rendi.
“Ini Ren kado buat kamu.” Sambil memberikan kado dan tersenyum.
“Makasi ya La kamu udah inget hari ulang tahunku.” Jawab Rendi sambil tersenyum.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat itu Laila merasa senang karena Rendi menerima kadonya dengan senang hati. Malam harinya Laila menelepon Rendi dan Rendi pun menanggapinya dengan positif.
Hari demi hari telah berlalu. Suatu saat Laila yakin untuk menyatakan perasaannya kepada Rendi lewat surat yang berisi:

To: Rendi Pranata Aditya
Halo Rendi,
Hari demi hari sudah terlewatkan. Aku tahu kau dan aku hanya sebagai teman saja. Tapi aku memiliki perasaan berbeda kepadamu Ren. Aku mencintaimu dan aku semakin yakin dengan perasaanku ini. Semua perhatianku yang aku berikan kepadamu itu sebagai pertanda bahwa aku mencintaimu. Sebenarnya aku malu untuk menyatakannya kepadamu. Dari dulu aku sudah menunggu kau untuk menyatakan cinta kepadaku tetapi sampai sekarang kau belum juga menyatakannya kepadaku. Maafkan aku sebelumnya, jika aku lancang memiliki rasa seperti ini kepadamu. Akan ku tunggu jawabanmu Rendi. Namun bila kau tak memiliki rasa sepertiku ini, kau masih mau kan menjadi temanku lagi?
Sekian suratku,
Laila
Setelah menerima surat itu, Rendi jarang lagi berhubungan dengan Laila. Bahkan seminggu Rendi tak masuk les. Laila pun menyesal karena dia sudah memberi surat kepada Rendi. Namun seminggu setelah itu Rendi akhirnya masuk les. Bahkan dia terlihat cuek kepada Laila hingga tak melirik Laila sedikit pun.
Malam harinya Laila tak bisa tertidur. Dia hanya bisa menangis dan menangis. Ke esokan harinya Laila tampak murung dan tak bersemangat. Sorenya Laila dan kedua sahabatnya tetap masuk les. Namun Laila hanya murung dan tak banyak bicara.
“Kamu kenapa sih La akhir-akhir ini murung terus?” Tanya Nur.
“Kamu memikirkan Rendi ya? Udahlah La jangan mikirin dia terus, nanti kamu bisa sakit.” Kata Ririn sambil menghibur.
“Aku gak kenapa-kenapa kok. Udah biyarin aku sendiri.” Jawab Laila sambil menyuruh temannya pergi.

Pulang les, Laila menerima surat balasan dari Rendi yang dititip ke Ririn. Malamnya Laila membaca isi surat dari Rendi:
To: Lailatul Shinta Salsabila
Laila,
Maafkan aku Laila tentang sikapku selama ini. Terima kasih juga dengan perhatianmu kepadaku. Aku hanya menganggap kau sebagai teman gak lebih. Aku nyaman denganmu karena kau baik denganku. Tapi aku tak bisa menjadikanmu sebagai kekasihku. Cintaku hanya untuk Ika teman satu kelas denganku. Aku hanya mencintainya La, kemarin aku baru jadian dengannya. Maafkan aku La, aku hanya mencintaimu sebagai teman bukan sebagai kekasih. Sekarang aku sudah ada yang memiliki. Aku mohon kau cari yang lebih baik dari aku La. Kado yang kau beri masih aku simpan baik-baik La. Lupakan perasaanmu itu kepadaku. Maafkan aku sekali lagi dan terima kasih karena kau baik denganku.
Sekian dariku, Rendi

Setelah Laila membaca surat itu, ia tak bisa berbuat apa-apa. Laila hanya bisa menangis. Saat Laila ingin menelepon Rendi tapi nomor handphone Rendi tak aktif. Ke esokkannya saat berada di les, Laila tak bertemu dengan Rendi Lagi. Kata Dino, Rendi sudah tak les lagi. Laila tak bisa menerima semua ini. Semuanya tak sesuai dengan apa yang telah dia harapkan. Setiap masuk les Laila tak bersemangat lagi. Laila hanya bisa mencoba melupakan sosok Rendi yang telah hadir di kehidupannya yang menghiasi hari-harinya. Namun saat ini dia telah hilang entah kemana. Hanya penyesalan yang dirasakan Laila saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar